Herwati Ahmad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

KADO AKHIR TAHUN 2017

Kupeluk erat putriku sesaat setelah dia memberiku kado. Hatiku begitu tersentuh tak terasa air mata ini menetes di pipi. Kata-kata yang tertulis di dalam kado begitu menyentuh, “Bu...adek tahu ibu tu capek, ngajar sana sini bisa dibilang full day. Terus malam-malam ibu sering bangun, sholat tahajjud, terus ngetik lagi siapin tugas-tugas ibu. Tapi adek kalo nelpon cuma bisa bilang, kapan ibu bisa ke sini, padahal semua yang adek mau udah ibu kasih. Kalo adek mau paket langsung ibu kirim, kalo adek mau uang langsung ibu transfer, kalo adek mau apa-apa langsung ibu kasi. Tapi .... adek ngak pernah kasi apa-apa, karena adek bukan abang. Adek ngak bisa kasi piala-piala kayak abang. Adek ngak bisa kasi sertifikat-sertifikat kayak abang. Adek ngak bisa kayak abang, karena adek ngak sepintar abang, adek ngak sehebat abang. Abang ikut MTQ, lomba-lomba kayak sekarang ini ikut MTQ tingkat provinsi di Dumai. Mungkin ......bukan sekarang adek bisa memberikan kayak abang. Mungkin ..... di mata ibu adek ini pemalas atau boros, tapi bu kalo soal pelajaran adek emang nggak bisa. Adek emang lemah soal pelajaran. Harus diulang beberapa kali baru bisa. Adek minta maaf bu ... kalo adek pernah buat ibu nangis, kalo adek pernah buat ibu marah, kalo adek pernah buat ibu sedih. Adek mau ngucapin SELAMAT HARI IBU. Adek berharap ibu jangan pernah capek gurusin adek, walaupun adek ini pelawan atau apalah. Ibu jangan sakit-sakit lagi ya, jangan terlalu capek. Ingat kesehatan ya bu, adek sedih kalo ibu sakit. Di sini adek senantiasa mendoakan ibu, di setiap sholat selalu adek indahkan nama babba, ibu, abang. Semoga kita dipertemukan lagi di surga nanti. Amin....Doakan adek, doakan adek ya bu. Mudah-mudahan cita-cita adek menjadi DOKTER terkabul. Dan adek menjadi seorang HAFIDZOH juga terkabul. Amin....Sekali lagi adek mau mengucapkan SELAMAT HARI IBU”.

Kado ini seharusnya diberikan putriku pada hari ibu, tapi dia memberikannya di akhir tahun sebelum dia kembali ke pondok pesantren. Putriku....kalian berdua adalah permata hatiku. Ibu sangat mengerti tentang dirimu. Bukan berarti kamu tidak bisa sehebat abang, tapi sikap manjamu itu yang membuat dirimu tidak bisa menggapai hasil yang sangat maksimal.

Ibu masih ingat dirimu saat masih duduk di kelas satu SD, tanpa sengaja adek menceritakan kalau ada PR menulis adek selalu meyuruh Dila (saudara sepupumu) untuk menuliskan. Bahkan adek juga mampu menyuruh babba (ayah) untuk membuatkan PR. Aku hanya mampu tersenyum mendengar ceritamu sayang. Begitu juga, ibu masih ingat saat adek berguling-guling di jalan sambil menagis dan mengatakan “biarlah adek mati”. Gara-gara adek minta dibelikan sepeda. Belum lagi kalau adek minta dibelikan boneka. Tapi semua itu adek lakukan di saat ibu tidak ada di rumah.

Dirimu juga pasti bisa hebat, yang penting sekarang adek sudah menyadari makna dari sebuah perjuangan. Ibu hanya bisa mendoakan dan mengarahkan, tapi kesuksesan hanya adek sendiri yang bisa menentukan. Selama ini perlakuan ibu terhadap dirimu dan abang memang berbeda, bukan berarti ibu membeda-bedakan. Jiwamu lebih rapuh dibanding abang. Adek lebih mudah stress. Tentu sebagai orang tua, ibu tidak mau salah dalam mendidik. Kalau diibaratkan abang adalah rotan, sedangkan adek adalah kuningan (besi). Untuk mendapatkan hasil yang baik, tentu untuk mengolah rotan dan kuningan berbeda. Ibu ingin keduanya menghasilkan sesuatu yang bernilai tinggi. Karena itu perlakuan ibu berbeda. Terkadang ibu keras denganmu, karena itu memang diperlukan untuk menempa kuningan. Tapi ibu tidak boleh terlalu keras, khawatir kuningannya akan meleleh. Sedangkan dengan abang ibu jarang keras, karena dalam mengolah rotan tidak diperlukan. Abang akan selalu menurut yang dikatakan ibu. Dia jarang membantah. Beda dengan adek.

Ibu bangga dengan mu sayang yang kini sudah berubah, tidak lagi terlalu manja. Adek sudah menyadari, mengapa ibu marah kepada adek. Sekarang adek sudah mengerti dengan tanggung jawab. Orang yang sukses bukan hanya ditujang oleh otak yang encer, tapi yang paling penting adalah kerja keras dan sungguh-sungguh. Ibu yakin kalau adek kerja keras dan sungguh-sungguh, adek akan mampu menggapai cita-cita. Jalan kesuksesan seseorang berbeda. Adek punya jalan kesuksesan tersendiri. Adek tidak perlu seperti abang. Adek jalani kehidupan adek sendiri. Yang penting kehidupan adek bermakna.

Terima kasih sayang karena adek sudah mengkhawatirkan ibu. Adek sudah peduli dengan kesehatan ibu.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali