Herwati Ahmad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

AIR MATA KEBAHAGIAAN

Begitu bahagianya diriku karena putraku berhasil ke tingkat provinsi MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) cabang Fahmil Qur’an. Pelaksanaannya pada 09 s.d 16 Desember 2017 di Dumai. Tak terasa air mata menetes di pipi. Terasa hangat sampai ke hati. Air mata ini telah mengobati luka hati seorang ibu dalam mendidik putranya.

Teringat 8 (delapan) tahun yang lalu saat putraku duduk di kelas IV (empat) SD. Dia terpilih dalam grup marchin band di sekolahnya. Dua bulan latihan tanpa mengenal lelah. Setelah pulang sekolah dia pergi lagi latihan. Kadang diantar ayahnya atau dia pergi sendiri dengan menggunakan sepeda. Setiap hari harus terpanggang sinar matahari mengakibatkan kulit mukanya terkelupas. Aku merasa ibah. Tapi melihat semangatnya aku merelakan semua itu. Yang penting putraku dapat mengembangkan bakatnya. Latihan yang dilakukan selama dua bulan untuk tampil pada pembukaan MTQ tingkat kabupaten. Aku sangat bangga. Di usia putraku yang masih 9 (sembilan) tahun dia akan tampil di depan publik. Aku tidak ragu mempersiapkan semua keperluannya, hanya tinggal satu yang belum yaitu baju seragam.

Dua hari sebelum tampil aku bertanya kepada putraku “Nak, baju seragam harus dibeli juga ya?”. “Tidak bu, nanti dari sekolah, besok baru dikasi”, jawab putraku. Keesokkan harinya setelah pulang sekolah, kembali kutanyakan tentang baju seragam yang akan dipakainya. “Besok bu, sebelum tampil ambil di sekolah”. Hati ini kok bimbang. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres, tapi semua itu kutepis.

Jam menunjukkan 12.30 WIB, setelah melaksanakan sholat zhuhur, aku mengantar putraku ke sekolah. Dengan hati yang bahagia putraku ingin cepat sampai ke sekolah. Berkali-kali dia mengatakan, “cepat sedikit bu, nanti abang (panggilan untuk putraku) terlambat”.

Dengan pelan-pelan aku membelokkan sepada motorku memasuki pintu gerbang sekolah, lalu mencari tempat parkir. Putraku sudah tak sabar, dia berlari menghampiri teman-temannya yang sudah lebih dahulu datang. Samar-samar kudengar pembinanya berkata “Habibi tidak bisa tampil karena tidak punya baju seragam”. Kupercepat langkah ini dan mendekati pembinanya, “apa ... bapak bilang Habibi tidak bisa tampil, karena tidak punya baju seragam. Emang baju seragam itu dari mana”, tanyaku dengan nada emosi. “Di beli bu”, jawab pembinanya. “Pak, mengapa baru sekarang bapak bilang kalau baju itu harus dibeli, emang berapa harga”. “seratus ribu”. Dengan emosi yang memuncak dan nada yang tinggi, aku berkata, “pak, sepuluh kali lipat harganya aku sanggup membelinya, mengapa baru hari ini bapak bilang. Anak itu (sambil menunjuk ke putraku), sudah dua bulan latihan, dia tidak peduli panas bahkan hujan dia tetap pergi latihan, hanya karena tidak ada baju seragam dia tidak tampil” ........kata-kataku terhenti karena aku merasa ada tangan mungil yang menarik telapak tanganku. Dengan suara lirih bercampur tangis, “yok bu kita pulang”. Kupeluk putraku erat-erat sambil menahan air mata ini. Aku tidak mau putraku tahu kalau aku sangat sedih. Sebagai ibu aku harus jadi motivator yang baik. Jika aku tidak kuat menghadapi semua ini, tentu putraku akan lebih rapuh lagi.

Betapa sedihnya hati ini melihat putraku duduk menyendiri. Tidak mau bicara, bahkan makanpun tidak mau. Berbagai macam usaha yang kulakukan, tapi dia tetap diam, membisu. Ya ... Allah, aku tak ingin putraku kehilangan keceriaannya. Engkau yang membolak balikan hati manusia. Berikanlah ketabahan kepada putraku. Hampir tiap malam diakhir sujudku aku berdoa agar putraku kembali seperti dulu.

Tak terasa hari berganti hari, bulan berganti bulan, waktupun berjalan satu tahun. Sekarang putraku sudah duduk di kelas V (lima) SD. Tiba-tiba ada telpon dari seseorang. Ternyata dari guru agama putraku, dia mengatakan kalau putraku terpilih mewakili sekolahnya untuk PILDACIL (Pemilihan Dai Cilik). Entah mengapa aku jadinya kurang respek, bahkan aku mengatakan ke gurunya. “Apakah ini sudah pasti dan tidak akan diganti lagi orangnya”. “Sudah bu, ini juga melalui seleksi, Habibi yang terbaik, makanya dia yang mewakili sekolah”, jawab gurunya. “aku mohon maaf bu, aku tidak ingin terulang kejadian satu tahun yang lalu, selama satu tahun ini aku sudah kerja keras untuk mengembalikan keceriaannya, jangan terjadi lagi saat hari H tidak jadi tampil, apa pun hasilnya sekolah harus menerima, karena dia sudah terpilih, jangan saat mau tampil dia diganti”.

Setelah satu tahun libur dari semua kegiatan ekstrakurikuler sekolah, baru inilah kegiatan pertama yang diikuti putraku, PILDACIL. Guru agamanya berpesan agar latihan di rumah. Dia diam-diam latihannya, tidak mau kami orang tuanya tahu. Dia tidak mau dilatih oleh ayahnya, padahal ayahnya juga seorang ustadz (penceramah). Tapi biarlah dia dengan dirinya sendiri. Biarkan dia menemukan jati dirinya. Yang terpenting bagiku, dia mau kembali seperti dulu. Menang atau tidak itu hal yang tidak penting. Aku hanya ingin putraku punya kemampuan untuk tampil di depan publik. Sehebat apapun seseorang kalau dia tidak punya kharisma tampil di depan publik, menurutku hanya sia-sia.

Hari-hari begitu indah rasanya, putraku tidak lagi diliputi kesedihan. Hampir setiap ada acara keagamaan di sekolah, dia selalu tampil berceramah. Dia sudah punya gaya sendiri dan bahkan sudah mampu membuat konsep sendiri. Dan tak terasa diapun sudah menyelesaikan pendidikannya di SD.

Begitu besar cita-cita putraku, aku bangga. Walaupun aku harus berpisah. Setelah tamat SD, putraku melanjutkan pendidikannnya di Pondok Pesantren yang ada di ibukota provinsi. Demi cita-citanya, aku ikhlas melepasnya. Selama duduk di bangku MTs (Madrasah Tsanawiyah), putraku memperlihatkan prestasi yang gemilang, baik prestasi akademik maupun non akademik. Berbagai kegiatan lomba diikutinya. Olimpide Matematika dan Sain, PILDACIL, dan pidato bahasa Inggris. Khusus untuk pidato bahasa Inggris sudah beberapa penghargaan yang diraihnya.

Sekarang putraku sudah duduk dibangku kelas XII MA (Madrasah Aliyah). Dia tetap ikut kegiatan. Dia menekuni MTQ cabang Fahmil Qur’an. Aku selalu memberikan motivasi kepada putraku. Untuk menggapai kesuksesan diperlukan kerja keras dan sungguh-sungguh serta tak lupa selalu berdoa. Tidak ada kesuksesan yang diperoleh secara instan. Terkadang kesuksesan harus melalui hambatan dan rintangan. Jika hari ini kamu gagal, bukan berarti jalan sudah tertutup. Tapi itu berarti harus belajar dan terus belajar. Alhamdulillah putraku sudah mampu menggapai tingkat provinsi MTQ cabang Fahmil Qur’an. Walaupun belum memberikan hasil yang cemerlang. Tapi bagiku, dia sudah menjadi pemenang di dalam hatiku.

Sekarang usianya sudah 17 tahun. Walau hari ini aku meneteskan air mata, tapi ini adalah air mata kebahagiaan. Aku sangat bahagia, karena apa yang kulakukan selama 17 tahun tidak sia-sia. Tujuh belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Apa yang diraih putraku hari ini bukanlah didapat secara instan. Waktu putraku masih dalam kandungan aku selalu mengusahakan untuk membaca Al-qur’an. Atau kadang aku hanya mendengarkan suamiku membaca Al-qur’an. Itu kulakukan selama aku mengandung. Setelah putraku lahir ke dunia. Aku terus berusaha untuk mengenalkannya dengan Al-qur’an. Yaitu dengan cara, setiap kali aku menyusukannya selalu kubacakan surah-surah pendek. Ya ... aku hanya membaca surah-surah pendek yang kuhafal.

Menjelang usia putraku satu tahun, dia sudah mulai bisa berbicara. Aku dan suami selalu melatihnya menyebutkan huruf-huruf hijaiyah dan bahkan membaca surah-surah pendek. Menjelang usianya 1,5 tahun putraku sudah hafal beberapa surah-surah pendek. Di usianya satu tahun setengah, dia sudah ikut sholat berjamaah. Suamiku sebagai imam, aku dan putraku sebagai makmum. Dari surah-surah yang dibaca ayahnya saat sholat, kadang dia mampu untuk mengulanginya. Di samping itu aku juga sudah memperkenalkan kepadanya tentang komputer. Aku mengajarinya bermain game. Walaupun komputer yang kumiliki waktu itu pentium satu.

Di usianya 4 (empat) tahun, kami baru intensif mengajari membaca Al-qur’an dengan metode IQRA. Di saat aku dan suami bangun sholat subuh, diapun kubangunkan untuk ikut sholat berjamaah. Setelah sholat subuh dia belajar membaca Al-qur’an bersama ayahnya. Sementara itu aku menyiapkan sarapan. Kemudian setelah sholat magrib, putraku juga wajib belajar membaca Al-qur’an.

Terkadang tetangga mengatakan kepadaku, “bu... ngak kasihan lihat anak harus dibangunkan subuh-subuh untuk ngaji, dia kan masih kecil dan nyenyak tidurnya”. Aku hanya membalas dengan senyuman. Memang tidak bisa membohongi hati nurani, kadang ada rasa ibah melihat anak yang sedang tidur nyenyak harus dibangunkan. Kadang dari tempat tidur harus digendong sampai ke kamar mandi untuk berwudhu. Alhamdulillah, kalau sudah terkena air wudhu ngantuknya akan hilang.

Di saat putraku duduk di kelas II (dua) SD, dia sudah mengikuti les bahasa Inggris. Sedangkan untuk bahasa Arab, ayahnya sendiri yang membimbingnya. Di samping itu dia juga mengikuti kelas MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah) pada saat dia kelas III (tiga) SD. Untuk mata pelajaran matematika, aku sendiri yang membimbingnya. Tidak ada waktu yang terbuang dengan sia-sia. Dari senin sampai sabtu sudah terisi dengan jadwal belajar dan kegiatan. Bahkan hari minggu juga diisi dengan kegiatan yang bermanfaat.

Aku tidak ingin putraku tertinggal di bidang teknologi. Aku memberinya handphone yang bisa dia gunakan untuk mengenal dunia. Aku tidak membiarkannya untuk menggunakan handphone ke hal-hal yang negatif. Kadang kami secara bersama-sama bermain dengan menggunakan handphone. Dengan demikian aku bisa mengontrolnya.

Kebiasaan-kebiasaan yang kutanamkan sejak dini, membuat putraku tidak terlalu sulit menyesuaikan dirinya di pondok pesantren. Begitu banyak rintangan dan hambatan yang kualami dalam mendidik putraku. Tapi aku yakin, tidak ada kata sia-sia jika semua kita lakukan dengan ikhlas. Jika hari ini belum berhasil, Insya Allah masih ada hari esok. Aku yakin Allah akan selalu memberikan jalan bagi hamba-Nya yang mau berusaha. Semoga ke depannya putraku selalu mendapat ridho dari-Nya. Amin.....

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Terima Kasih bu, salam kenal kembali. Sy guru SMAN 1 Tembilahan Inhil Riau

12 Mar
Balas

MasyaAllah..luar biasa putranya Bu..anak hebat karena orang tuanya. Barakalllah ya Bu..salam kenal

12 Mar
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali